Ditulis oleh: Tim ‘Transisi Energi Berbasis Masyarakat untuk Ketahanan Sosial dan Ekonomi’* sebagai bagian dari seri refleksi rutin yang dilakukan tim proyek.
Pada fase kali ini—mulai dari pengumpulan data, interpretasi, hingga penyampaian hasil—Dala Institute kembali melihat bagaimana Participatory Action Research (PAR) bekerja melalui perubahan-perubahan kecil dalam cara para aktor memahami persoalan dan memaknai perannya dalam proses penelitian.
Perubahan tidak selalu hadir sebagai pengetahuan yang sepenuhnya baru. Kadang, sesuatu yang sudah lama diketahui terlihat berbeda ketika dibaca dari sudut pandang lain.
Dalam refleksi ini, kami mengikuti perubahan tersebut melalui tiga bagian proses penelitian: ketika para interlokutor turun ke lapangan, menafsirkan temuan bersama, dan menyampaikan hasil penelitian.
Pengumpulan data: menelisik kembali realitas
Interlokutor dalam penelitian ini merupakan pegawai pemerintah daerah di Kabupaten Halmahera Tengah dan Provinsi Maluku Utara. Sehari-hari, mereka bekerja pada isu pembangunan, pelayanan publik, lingkungan, serta masyarakat di sekitar wilayah tambang. Karena itu, persoalan yang dibahas dalam inisiatif PAR ini bukan sesuatu yang asing bagi mereka.
Namun pengalaman di lapangan memberi konteks yang berbeda. Di luar rutinitas kelembagaan dan pembagian tugas masing-masing instansi, para interlokutor mendengar pengalaman masyarakat secara langsung, mengamati kondisi yang mereka hadapi, mengajukan pertanyaan, dan membandingkannya dengan apa yang selama ini mereka ketahui.
Salah satu temuan cukup sederhana, tetapi memberi gambaran yang kuat. Masyarakat di salah satu lokasi penelitian harus membeli hingga 21 galon air kemasan setiap dua minggu untuk memasak dan minum, meskipun mereka tinggal di wilayah yang dikenal memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi.
Temuan ini membuka pertanyaan reflektif yang lebih mendasar bagi interlokutor: sejauh mana program pemerintah telah menjawab kebutuhan masyarakat?
Pertanyaan tersebut tidak muncul karena persoalan layanan dasar sama sekali tidak diketahui sebelumnya. Yang berubah adalah cara persoalan itu dibaca. Pengalaman di lapangan mendorong interlokutor untuk melihat bahwa persoalan tidak hanya berkaitan dengan pilihan atau perilaku masyarakat. Namun, persoalan mulai dikaitkan dengan ketersediaan, akses, dan pelaksanaan layanan dasar.
Dalam bahasa PAR, proses ini dapat dipahami sebagai bagian dari conscientisation: ketika pengalaman sehari-hari dibaca kembali secara kritis, kondisi yang semula dianggap wajar mulai dipertanyakan, dan kemungkinan atas kondisi yang berbeda mulai dibayangkan (Freire, 1977).

Interpretasi data: mempertemukan pengetahuan yang terpisah
Ketika temuan dari lapangan mulai dibaca bersama, batas antar-isu menjadi semakin sulit dipisahkan.
Salah satu interlokutor, misalnya, terbiasa turun ke lapangan untuk menangani persoalan sampah. Dalam penelitian ini, ia juga menemukan persoalan tanah dan batas desa. Interlokutor lain menemukan persoalan kesehatan, termasuk HIV/AIDS.
Temuan-temuan tersebut menunjukkan bahwa persoalan di kawasan pertambangan tidak selalu mengikuti pembagian mandat antarinstansi. Isu kesehatan dapat terkait dengan perubahan sosial. Persoalan lingkungan dapat bersinggungan dengan kondisi tempat tinggal, pelayanan dasar, maupun tata kelola desa. Satu persoalan sering membutuhkan pengetahuan dari beberapa institusi untuk dipahami secara lebih utuh.
Dari sini, ruang interpretasi menjadi penting. Temuan dari satu sektor dapat dibaca bersama temuan dari sektor lain. Para interlokutor dapat membandingkan perspektif, melihat keterbatasan pendekatan yang sudah berjalan, dan mengenali hubungan antara tindakan satu instansi dengan instansi lainnya.
Pengalaman ini juga memperlihatkan bahwa partisipasi tidak cukup dipahami sebagai kehadiran lebih banyak orang dalam sebuah proses. Latar belakang dan mandat yang berbeda justru menjadi berguna ketika pengetahuan yang sebelumnya terpisah dapat dipertemukan dan diuji bersama.
Dalam pengertian ini, interpretasi menjadi salah satu bagian dari demokratisasi pengetahuan. Para interlokutor ikut menentukan bagaimana data dibaca dan apa yang dianggap penting dari temuan tersebut. Posisi mereka bergeser menjadi co-researcher yang terlibat dalam produksi pengetahuan tentang daerahnya sendiri.

Penyampaian temuan: menyuarakan pengetahuan yang dimiliki
Sejak awal, keterlibatan interlokutor dirancang sampai pada tahap penyampaian hasil. Setelah mengumpulkan dan membahas data, mereka mempelajari kembali temuan, menyusun narasi, dan mempresentasikannya kepada peserta lain.
Tahap ini membawa tantangan tersendiri. Beberapa interlokutor sempat menunjukkan keraguan diri. Mereka perlu kembali memahami data yang dikumpulkan, menentukan hubungan antar-temuan, dan menyusun penjelasan yang dapat disampaikan kepada forum. Di antara peserta yang hadir terdapat pula pejabat dengan posisi struktural yang lebih tinggi.
Konteks tersebut penting. Dalam birokrasi, jabatan ikut membentuk siapa yang lebih mudah berbicara, memimpin percakapan, atau mengambil posisi di depan forum. Selama proses penelitian, dinamika seperti ini juga terlihat dalam tingkat partisipasi para interlokutor.
Dalam ruang diseminasi, untuk sementara, pola tersebut mendapat bentuk interaksi yang berbeda. Interlokutor memiliki ruang untuk menyampaikan temuan dan mendiskusikannya langsung dengan pejabat yang secara struktural berada di atas mereka. Dari pengalaman itu, mereka mulai melihat bahwa mereka juga memiliki kapasitas untuk menjalankan peran yang sebelumnya tidak biasa mereka lakukan.
Pengalaman tersebut memberi bentuk yang lebih konkret pada gagasan mengenai distribusi otoritas pengetahuan dalam PAR. Pengetahuan tidak hanya diproduksi oleh akademisi atau peneliti untuk kemudian diserahkan kepada pihak lain. Orang-orang yang bekerja di dalam realitas yang diteliti juga dapat terlibat dalam menghasilkan, menafsirkan, dan menggunakan pengetahuan tersebut (Borda & Rahman, 1991).
Melihat kembali keseluruhan proses ini, kami belajar bahwa transformasi dalam PAR mungkin tidak langsung terlihat dalam bentuk perubahan kebijakan atau program. Sebelum sampai ke sana, terdapat proses pembelajaran institusional yang lebih awal.
Salah satunya terlihat dari bagaimana pengetahuan bergerak di dalam birokrasi sekaligus mengubah hubungan hubungan antara pengalaman, pengetahuan, dan otoritas.
Pergerakan itu mungkin tampak kecil. Namun dari sanalah sebuah temuan mulai memperoleh kemungkinan untuk menjadi bagian dari percakapan institusional yang lebih luas.

Referensi
- Freire, Paulo. 2010. “Interlude: From Pedagogy of the Oppressed.” In Brian D. Schultz (ed.), Listening to and Learning from Students: Possibilities for Teaching, Learning, and Curriculum. Emerald Publishing Limited.
- Fals-Borda, Orlando, dan Muhammad Anisur Rahman, eds. 1991. Action and Knowledge: Breaking the Monopoly with Participatory Action Research. New York: Apex Press.

Comments
No comments yet. Be the first to respond.
Enter your email and we will send a sign-in link so you can comment.