Refleksi tentang Relasi, Resiprositas, dan Keberlanjutan dalam Penelitian Partisipatoris Feminis
Disclaimer:
- Semua kutipan dan informasi dalam tulisan ini telah mendapat persetujuan dari para peneliti sejawat.
- Tulisan ini dibuat dengan menggunakan bantuan kecerdasan buatan
Apa yang terjadi saat sebuah kegiatan penelitian tidak bisa berakhir meskipun secara administratif proyek sudah ditutup?
Ini adalah sebuah risiko yang, ternyata, mungkin dihadapi saat sebuah tim melaksanakan kegiatan riset aksi partisipatoris feminis. Proyek riset saya dan tim di atas kertas sudah selesai, dan aliran dana pun sudah berhenti. Namun, tidak seperti kegiatan-kegiatan riset atau evaluasi lainnya yang biasa saya lakukan, tidak ada perasaan lega. Yang saya rasakan adalah sedikit duka, banyak haru, serta bahagia menyaksikan pencapaian para peneliti sejawat.
Di tulisan saya yang sebelumnya sekitar setahun yang lalu, di pertengahan linimasa kegiatan riset, saya banyak merenung mengenai proses kami bernegosiasi dengan sifat ekstraktif sebuah penelitian. Saya berbicara tentang komitmen untuk "memberi sebelum meminta", tentang bagaimana kami mendistribusikan kembali sumber daya institusional kepada mereka yang berada di garis depan perjuangan lingkungan, tentang bagaimana kami mencoba—dengan segala keterbatasan kami—untuk tidak mengekstraksi pengetahuan tanpa memberikan sesuatu yang berarti kembali.
Sekarang, pertanyaannya bukan lagi tentang bagaimana kami memulai dengan prinsip-prinsip tersebut. Pertanyaannya adalah: apa yang tersisa ketika pendanaan berakhir? Apa yang tertinggal ketika proyek resmi ditutup?
Dan mungkin yang lebih mengganggu: Mengapa saya merasakan keengganan untuk membuat sebuah konklusi? Mengapa saya merasa ini adalah proses yang harus terus berlanjut, meskipun secara resmi kegiatannya sudah ditutup?
Riset “Para Penjaga di Bawah Tekanan”
Kegiatan riset yang saya dan tim lakukan, di mana saya berperan sebagai pengarah metode, berjudul "Para Penjaga di Bawah Tekanan" (Guardians Under Pressure, disingkat GUP). Penelitian ini mengkaji pembela lingkungan dan ruang sipil dalam konteks "solusi iklim palsu" melalui enam studi kasus di Indonesia, Filipina, dan Thailand. Secara metodologis, penelitian ini menggunakan pendekatan Feminist Participatory Action Research (FPAR).
FPAR adalah pendekatan penelitian yang menempatkan mereka yang biasanya menjadi "objek penelitian" sebagai co-researchers—rekan peneliti sejawat yang aktif dalam seluruh proses, dari merumuskan pertanyaan penelitian, menganalisis temuan, sampai menuliskan laporan. Pendekatan feminis di sini berarti kami tidak hanya peduli pada partisipasi, tapi juga pada bagaimana relasi kuasa yang saling bersilang—termasuk gender, generasi, kelas, dan akses ke sumber daya—membentuk siapa yang bisa memproduksi pengetahuan dan pengetahuan siapa yang dianggap "sah". Ini bukan sekadar metode, tapi komitmen politik untuk mendistribusikan kembali kekuasaan dalam proses penelitian.
Saya memimpin dua studi kasus di Indonesia yang berfokus pada perlawanan terhadap proyek pertambangan nikel dan panas bumi di dua lokasi berbeda. Dalam kedua studi tersebut, saya bekerja sama dengan 12 peneliti sejawat yang berperan sebagai rekan peneliti, bukan sekadar subjek penelitian.
Kami memulai dengan komitmen: memberi sebelum meminta. Kami membuat zine sebagai bentuk solidaritas pertama, lalu menyusun kursus digital untuk pelatihan penelitian yang dapat mereka akses kapan pun mereka butuhkan.
Para peneliti sejawat kemudian melakukan pengumpulan data secara mandiri. Mereka yang menentukan pertanyaan penelitian, memilih metode yang sesuai dengan tradisi lisan komunitas mereka, dan melakukan wawancara dengan anggota komunitas sendiri.
Kemudian datanglah lokakarya analisis data pada bulan Agustus 2025, momen pertama para peneliti sejawat dari dua lokasi studi kasus bertemu dan bekerja bersama. Mereka bertukar cerita, bekerja, dan bermain bersama. Kedua kelompok dengan cepat membentuk relasi erat. Di lokakarya ini, kami sepakat membuat pameran sebagai cara menyajikan hasil riset sebagai pembuka untuk lokakarya nasional yang diselenggarakan oleh rekan kami, Auriga Nusantara.
Perjalanan berlanjut ke Jakarta pada bulan November 2025 untuk lokakarya nasional dan pameran bertajuk "Yang Menghidupi Yang Dilukai: Antologi Para Penjaga di Tengah Krisis Iklim" di Taman Ismail Marzuki. Kami memilih format pameran untuk menantang batasan tentang siapa yang berhak memproduksi pengetahuan—dan bagaimana pengetahuan itu disajikan. Pengunjung tidak hanya membaca laporan dalam bentuk aset pameran, tetapi juga membenamkan diri dalam artefak-artefak perlawanan, benda dari lapangan, foto, dan kutipan hasil wawancara. Ada pemutaran film perlawanan warga, diskusi tentang pemulihan sosial pascatambang, dan dinding interaktif sebagai "bab penutup" yang disusun bersama pengunjung. Ruang sipil hadir secara nyata di depan mata—tempat dialog, tempat para peneliti sejawat menyampaikan isu-isu yang dihadapi.
Akhirnya, pada April 2026, kami mengadakan lokakarya terakhir selama empat hari. Di sini mereka menyelesaikan laporan kolektif—satu untuk masing-masing kelompok studi kasus. Bukan laporan individual, bukan pula laporan untuk kami, tapi laporan kolektif dari dan untuk mereka sendiri: dokumentasi hasil penelitian yang mereka rancang, data yang mereka kumpulkan, analisis yang mereka susun bersama—alat advokasi, dokumentasi komunitas, dan bukti bahwa mereka adalah produsen pengetahuan yang sah.

Transformasi dalam Penelitian Partisipatoris
Paulo Freire menulis dalam Pendidikan Kaum Tertindas bahwa pendidikan sejati bukan tentang "mendepositkan" pengetahuan dari guru ke murid. Pendidikan yang membebaskan adalah proses dialogis yang mengubah objek menjadi subjek: dari yang diteliti menjadi peneliti, dari yang diceritakan menjadi pencerita.
Ketika kami mendengarkan refleksi para peneliti sejawat di akhir lokakarya, transformasi yang Freire gambarkan itu benar-benar terjadi—dengan kata-kata mereka sendiri yang jauh lebih kuat.
Seorang peneliti sejawat mengatakan:
"Sebelum kegiatan ini, saya biasanya menjadi narasumber. Selalu mahasiswa yang menjadi peneliti. Setelah kegiatan ini, kami belajar bersama sebagai peneliti."
Kalimat sederhana yang menohok. Selama ini, komunitas selalu menjadi objek penelitian—mereka yang diwawancarai, didata, "diteliti" oleh orang luar. Pengetahuan tentang kehidupan mereka diekstraksi, dibawa pergi, ditulis dalam bahasa yang tidak mereka pahami, dipublikasikan di jurnal yang tidak pernah mereka baca.
Para peneliti sejawat tidak lagi sekadar "narasumber." Mereka merumuskan pertanyaan penelitian, memilih metode yang sesuai dengan tradisi lisan komunitas, mengumpulkan data, dan menganalisis temuan bersama.
Efek dari melakukan kegiatan tersebut membawa realisasi tersendiri bagi para peneliti sejawat mengenai pentingnya literasi dan dokumentasi. Mereka merefleksikan:
"Ketika kami dulu berbicara tentang riset adat, ini adalah hal-hal yang biasanya diceritakan secara lisan oleh tetua dan kami hanya mendengarkan tanpa ada tulisan. Sekarang telah menjadi dokumentasi tertulis—ini membuat saya merasa ini luar biasa."
Freire berbicara tentang pentingnya "menamakan dunia" (naming the world)—bahwa proses menamakan realitas adalah langkah pertama untuk mengubahnya. Pengetahuan tentang adat, perlawanan, dampak pertambangan dan produksi panas bumi memang ada di komunitas, dan sejauh ini sering kali hanya diucapkan (secara verbal), tidak pernah dituliskan dengan tangan mereka sendiri.
Ketika peneliti sejawat mulai mendokumentasikan pengetahuan mereka—menulis tentang dampak proyek panas bumi terhadap wilayah adat, bagaimana perempuan menanggung beban ganda akibat tambang nikel, strategi perlawanan yang mereka jalankan—mereka tidak hanya "menamakan" realitas mereka. Mereka mengklaimnya. Mereka menegaskan bahwa pengetahuan ini adalah milik mereka dan mereka berhak mendefinisikan, mendokumentasikan, dan menyebarkannya.
Peneliti sejawat lain menambahkan:
"Melalui program ini, kami sekarang memahami bahwa hal-hal biasa bisa menjadi luar biasa dalam penelitian ini."
Ini adalah momen ‘conscientização’ yang Freire gambarkan: kesadaran kritis yang membuat orang menyadari bahwa mereka memiliki pengetahuan berharga, bahwa pengalaman mereka merupakan data yang sah. Yang "biasa"—cerita sehari-hari tentang kehilangan akses ke hutan, air yang tercemar, intimidasi dari aparat—menjadi "luar biasa" ketika mereka menyadari ini adalah bukti empiris, temuan penelitian, dan pengetahuan yang dapat digunakan untuk melawan.
Persoalan-Persoalan Legitimasi
Namun, dengan bangkitnya kesadaran kritis tersebut, mereka dihadapkan dengan persoalan-persoalan yang bukan hanya terletak di tangan kami untuk mengubahnya, yaitu persoalan-persoalan terkait legitimasi pengetahuan yang mereka bangun.
Awalnya, kegiatan penelitian meningkatkan kepercayaan diri mereka. Setelah mereka melakukan penelitian, mereka jadi yakin bahwa pengetahuan mereka memiliki dasar metodologis yang kuat, yang membuat mereka lebih berani untuk menyampaikannya kepada publik. Salah satu refleksi paling mengena:
"Sebelumnya kami merasakannya, tapi kami tidak yakin. Setelah melakukan penelitian, kami berani menyampaikan aspirasi di publik, karena kami telah mendapat pengetahuan dari orang-orang yang kami temui. Ini yang saya anggap baru—munculnya keberanian untuk mengungkapkan aspirasi secara publik."
Kepercayaan diri ini muncul dari ‘praxis’—siklus aksi dan refleksi yang Freire gambarkan sebagai inti pendidikan yang membebaskan. Mereka bertindak (mengumpulkan data, mewawancarai tetangga, mendokumentasikan dampak), merefleksikan bersama (menganalisis temuan, mendiskusikan pola, menuliskan laporan, merumuskan kesimpulan), kemudian bertindak lagi (menggunakan temuan untuk advokasi, kampanye, memperkuat perlawanan).
Namun, pertanyaan yang mereka ajukan di akhir lokakarya juga mengungkap keterbatasan upaya kami:
"Ketika kita melihat penelitian dari pihak lain, terutama dari pihak kampus, yang mengakui hasilnya adalah kampus. Kira-kira siapa yang bisa mengakui kita punya penelitian?"
Meski mereka telah melakukan penelitian berbasis metodologi yang terstruktur, sistem kredensial akademis masih membuat mereka ragu: Apakah penelitian kami akan diakui? Atau hanya penelitian dari "kampus" yang dianggap sah?
Ini adalah batas dari apa yang bisa kami lakukan melalui satu proyek. Kami bisa memfasilitasi proses, mengafirmasi bahwa pengetahuan mereka valid, tapi kami tidak bisa—sendirian—mengubah seluruh sistem yang mendiskualifikasi pengetahuan komunitas. Yang bisa kami lakukan adalah terus menegaskan bahwa mereka adalah peneliti sejati, dan penelitian mereka menantang batas-batas produksi pengetahuan.
Refleksi-Refleksi Lanjutan Mengenai Ekstraktivisme Riset
Di tulisan sebelumnya saya banyak merefleksikan mengenai ekstraktivisme penelitian. Refleksi tersebut belum mencapai konklusinya dan terus berlanjut hingga sekarang.
Pada sesi debrief lokakarya akhir, seorang rekan di tim kami mempertanyakan apakah penelitian ini "lebih banyak untungnya buat para peneliti sejawat daripada kita." Saat itu, saya mengangguk. Bukankah itu yang kami inginkan? Bukankah itu bukti bahwa kami berhasil menghindari ekstraksi?
Tapi kemudian saya bertanya: Apakah itu benar? Atau justru itu hanya ilusi—cermin dari model penelitian konvensional yang begitu terbiasa dengan sifat ekstraktif?
Mari berkata jujur: kami juga mendapatkan banyak sekali dari penelitian ini.
Dengan melakukan penelitian ini, kami mempelajari "solusi iklim palsu" dengan melihat bagaimana proyek panas bumi dan pertambangan nikel, yang dijual sebagai bagian dari transisi energi hijau, ternyata menggunakan mekanisme yang sama dengan ekstraktivisme lama: kerangka hukum yang melewati persetujuan lokal, kriminalisasi perlawanan, kekerasan negara yang melayani akumulasi modal. Kami juga menyaksikan peran perempuan dalam pertahanan lingkungan, sekaligus memahami bagaimana tata kelola adat bisa menjadi kerangka perlawanan dan, pada saat yang sama, mereproduksi eksklusi patriarkal.
Yang lebih penting lagi, kami belajar menjalankan FPAR—bukan dari buku teks, tapi dari praktik langsung. Kami belajar memfasilitasi tanpa mengendalikan, mendampingi tanpa mendikte, menyesuaikan timeline dan metode ketika realitas lapangan tidak sesuai rencana. Pengetahuan ini kini menjadi modal kami untuk proyek-proyek lain, modal yang tidak bisa dibeli atau dipelajari tanpa keterlibatan langsung.
Tentu saja, ada luaran yang lebih terukur: laporan, artikel, presentasi di konferensi, blog ini. Kami mendapat pengakuan dari donor, jaringan CSO, dan rekan akademisi. Nama institusi kami semakin dikenal sebagai organisasi yang serius menjalankan riset partisipatoris. Semua ini penting, ya, tapi bukan yang paling berharga.
Yang paling berharga—mungkin yang paling sulit diukur—adalah yang immateril. Kami membangun hubungan manis dengan para peneliti sejawat. Kami merasakan kebahagiaan memfasilitasi mereka. Kami menikmati prosesnya—bukan hanya sebagai kewajiban profesional, tapi sebagai sesuatu yang mengisi jiwa. Ada momen-momen di mana kami merasa: Inilah kenapa kami melakukan pekerjaan ini. Tim kami juga semakin kuat karena proses ini.
Jadi, apakah kami "tidak mendapat apa-apa"? Jelas tidak.

Resiprositas yang Membebaskan Kedua Belah Pihak
Dan di sinilah saya menyadari: Mungkin saya salah mengajukan pertanyaan.
Pertanyaan yang tepat bukan: "Apakah kami berhasil menghindari mendapatkan sesuatu?" Tapi: "Apakah yang kami dapat adalah hasil dari dialog sejati, atau dari ekstraksi?"
Freire tidak pernah mengatakan bahwa pendidikan yang membebaskan adalah proses satu arah—di mana guru hanya memberi dan tidak menerima apa-apa. Justru sebaliknya. Dalam problem-posing education, guru dan murid sama-sama belajar. Keduanya adalah subjek yang aktif dalam proses kognitif.
Freire menulis: "Melalui dialog, guru-dari-murid dan murid-dari-guru berhenti ada, dan istilah baru muncul: guru-murid bersama murid-guru." Artinya, kedua belah pihak mengajar sekaligus belajar. Tidak ada yang hanya memberi, tidak ada yang hanya menerima.
Jika saya menggunakan kerangka ini, maka fakta bahwa kami juga mendapat banyak dari penelitian ini justru menegaskan bahwa ini mengarah pada pendidikan yang membebaskan. Ini menunjukkan bahwa proses yang terjadi adalah dialogis, dua arah, dan resiprokal.
Para peneliti sejawat belajar metode penelitian, analisis data, dan dokumentasi tertulis. Kami belajar tentang realitas yang mereka alami, strategi perlawanan mereka, dan bagaimana menjalankan FPAR dalam konteks kekerasan negara. Mereka mendapat alat untuk advokasi. Kami mendapat pemahaman yang lebih dalam tentang solusi iklim palsu. Mereka menjadi lebih percaya diri berbicara di publik. Kami menjadi fasilitator yang lebih baik.
Ini bukan ekstraksi. Ini adalah resiprositas—pertukaran yang saling memperkaya.
Tentu saja, pertukaran ini tidak pernah setara secara sempurna. Posisi kami memang berbeda dari awal: kami datang dengan privilese institusional, akses ke funding, legitimasi akademis. Asimetri ini tidak hilang hanya karena kami menjalankan metode partisipatoris.
Tapi asimetri posisi tidak berarti dialog tidak mungkin. Yang penting adalah: Apakah kami mengakui asimetri itu? Apakah kami terus berupaya mendistribusikan kembali privilese kami? Apakah kami menghormati pengetahuan mereka sebagai setara dengan pengetahuan akademis kami?
Saya pikir jawabannya adalah: Kami mencoba. Tidak akan pernah sempurna, tapi kami mencoba.
Belajar dari Mereka, Belajar Bersama Mereka
Salah satu pembelajaran paling penting adalah ketika seorang fasilitator merefleksikan dengan jujur di debrief internal: "Kami tidak bekerja sekeras biasanya. Yang menyelamatkan kami adalah para peneliti sejawat—fokus mereka luar biasa."
Ini bukan pernyataan yang memalukan. Ini justru bukti bahwa kontrol sudah berpindah. Kesuksesan lokakarya tidak lagi bergantung pada seberapa sempurna kami memfasilitasi, tetapi pada seberapa kuat mereka mengambil kepemilikan atas proses tersebut.
Kami adalah guru dalam hal metode penelitian. Tapi mereka adalah guru dalam hal isu yang mereka teliti, strategi bertahan di tengah represi, dan bagaimana membangun solidaritas lintas generasi dan lintas gender di komunitas mereka. Kami belajar dari mereka. Mereka belajar dari kami. Dan yang paling penting: kita semua belajar bersama.
Jadi, tidak, saya tidak lagi merasa bersalah karena kami juga mendapat banyak dari penelitian ini. Justru sebaliknya: Jika kami tidak mendapat apa-apa, jika kami tidak belajar apa-apa, mungkin itu berarti dialognya tidak terjadi. Mungkin itu berarti kami hanya berpura-pura mendengarkan, tanpa benar-benar membuka diri untuk diubah oleh proses ini.
Pertanyaan Penelitian Mereka? Bagaimana dengan Pertanyaan Penelitian Kami?
Ada ketegangan lain yang perlu saya akui: pertanyaan penelitian awal yang dirancang oleh tim akademis kami tidak sepenuhnya sejalan dengan pertanyaan yang muncul dari komunitas.
Kami datang dengan pertanyaan tentang bagaimana "solusi iklim palsu" mempengaruhi ruang sipil dan pembela lingkungan. Pertanyaan-pertanyaan ini penting. Tapi apakah ini yang paling penting bagi komunitas?
Para peneliti sejawat lebih tertarik mendokumentasikan bagaimana proyek panas bumi merusak sistem tata kelola adat, bagaimana pengetahuan tentang hutan dan air yang selama ini hanya diceritakan secara lisan sekarang perlu dituliskan, bagaimana melibatkan lintas generasi dalam perlawanan. Mereka ingin laporan yang bisa digunakan untuk memperkuat legitimasi adat di hadapan negara dan perusahaan.
Para peneliti sejawat ingin mendokumentasikan dampak konkret tambang nikel terhadap kehidupan sehari-hari: air yang tercemar, ikan yang hilang, konflik dalam komunitas, perempuan yang menanggung beban berlipat. Mereka ingin bukti empiris untuk kampanye.
Apakah pertanyaan kami terjawab dalam laporan mereka? Sebagian, ya. Tapi tidak sepenuhnya. Dan itu menimbulkan pertanyaan yang tidak nyaman: Bagaimana dengan akuntabilitas kami terhadap pertanyaan penelitian yang kami ajukan dalam proposal pendanaan?
Freire sangat jelas tentang ini: Dalam problem-posing education, yang tertindas harus mendefinisikan masalah mereka sendiri. Jika peneliti dari luar yang menentukan pertanyaan, itu masih banking education—hanya dengan kemasan yang lebih halus.
Jadi kami membuat pilihan: Kami menyesuaikan. Kami membiarkan pertanyaan penelitian mereka memimpin. Kami mengakui bahwa laporan yang mereka hasilkan mungkin tidak menjawab semua pertanyaan donor kami, mungkin tidak pas dengan kerangka akademis yang kami rencanakan. Tapi laporan itu menjawab pertanyaan yang penting bagi mereka—dan itu yang lebih penting.
Untungnya, donor kami cukup fleksibel untuk memahami ini dan mengizinkan adaptasi proyek. Tidak semua donor akan bersikap seperti ini. Dan di situ lah tantangan struktural dari menjalankan FPAR: Bagaimana kita memenuhi ekspektasi donor yang mendanai penelitian, sambil tetap menghormati prioritas komunitas yang mungkin berbeda?
Saya tidak punya jawaban sempurna untuk ini. Yang saya tahu adalah: rigiditas dalam luaran dan linimasa bisa mengkhianati prinsip partisipatoris. Fleksibilitas adalah prasyarat—tapi tidak semua sistem pendanaan mengizinkannya.
Ketika Waktu dan Sumber Daya Tidak Cukup
Refleksi lain yang muncul dari tim kami: ”Peningkatan kapasitas seharusnya menjadi inti dari proyek ini. Kita tidak merencanakannya dengan cukup matang."
Kami tahu FPAR membutuhkan waktu lebih lama daripada penelitian konvensional. Tapi tetap saja, kami kurang estimasi. Pembangunan kapasitas—pelatihan penelitian, pendampingan analisis data, fasilitasi penulisan—seharusnya bukan menjadi tambahan, tapi menjadi inti dari anggaran dan timeline.
Keterbatasan waktu juga berarti laporan yang mereka hasilkan di akhir lokakarya belum sepenuhnya "selesai" dengan standar publikasi akademis—masih ada bagian yang bisa diperdalam, masih ada penyuntingan yang bisa dilakukan. Tapi justru di sinilah saya melihat sesuatu yang penting: Kami menyerahkannya kepada mereka untuk melanjutkan penyempurnaan laporan secara mandiri, pada waktu mereka sendiri, dengan cara mereka sendiri.
Ini bukan tanda kegagalan proses partisipatoris kami. Justru sebaliknya—ini menunjukkan bahwa kami cukup percaya akan rasa kepemilikan mereka yang tinggi, agensi mereka, dan kemampuan mereka untuk melanjutkan proses secara mandiri. Mereka tidak perlu menunggu kami datang lagi untuk menyelesaikan laporan mereka. Mereka bisa—dan akan—melakukannya sendiri, karena ini adalah laporan mereka, bukan laporan kami.
Apa Yang Tertinggal
Ketika saya menulis di pembukaan bahwa penelitian ini tidak bisa berakhir, saya tidak sepenuhnya paham sendiri apa yang saya maksud. Tapi sekarang, setelah merenung lebih jauh, saya pikir ini bukan tentang nostalgia atau keengganan melepas proyek yang sudah menyita tiga tahun kehidupan profesional saya.
Ini tentang sesuatu yang lebih mendasar: Kami sudah memulai sebuah proses yang tidak bisa dihentikan begitu saja.
Bayangkan Anda memutar roda yang berat. Di awal, butuh tenaga ekstra untuk menggerakkannya. Tapi setelah roda itu mulai berputar, setelah ia mencapai momentum tertentu, ia tidak lagi sepenuhnya bergantung pada Anda untuk terus bergerak. Ia punya energi sendiri.
Saya merasa penelitian ini seperti itu.
Di awal, kami yang mendorong: membuat zine, menyusun pelatihan, memfasilitasi lokakarya pertama. Tapi di titik tertentu—mungkin di lokakarya Bali ketika mereka pertama kali bertemu dan menganalisis data bersama, mungkin di pameran TIM ketika mereka melihat karya mereka dipamerkan dan mendapat respons publik, atau mungkin di lokakarya terakhir ketika fokus mereka yang "menyelamatkan" lokakarya meski kami tengah lelah—di titik itu, momentum sudah berpindah.
Mereka yang sekarang mendorong roda itu. Mereka yang bilang mereka akan membuat laman situs jurnalisme warga. Mereka yang memutuskan untuk melanjutkan penyempurnaan laporan secara mandiri. Mereka yang sudah mulai berpikir: penelitian berikutnya mau tentang apa? Dokumentasi apa lagi yang perlu kami buat?
Dan ketika momentum itu sudah tercipta, saya tidak bisa—dan tidak boleh—tiba-tiba menghentikannya hanya karena pendanaan berakhir. Saya tidak bisa berkata: "Oke, proyek selesai, kalian berhenti di sini ya." Karena ini bukan lagi proyek kami. Ini sudah menjadi proses mereka.
Tapi mungkin yang lebih fundamental dari momentum adalah: Kami sudah membangun hubungan yang sifatnya tidak bisa dikembalikan seperti sebelumnya.
Sebelum proyek ini, kami adalah orang asing bagi mereka. Peneliti dari Jawa dan Bali yang datang dengan proposal dan pendanaan.
Sekarang? Kami sudah saling tahu dengan cara yang berbeda.

Kami tahu bagaimana mereka berpikir, bagaimana mereka menganalisis dampak tambang dan proyek panas bumi, bagaimana mereka merumuskan strategi perlawanan. Mereka tahu bagaimana kami bekerja, bagaimana kami memfasilitasi, bahkan bagaimana kami lelah dan tidak sempurna. Kami sudah melewati momen-momen sulit bersama: ketika analisis data terasa sulit, ketika menulis laporan terasa tidak mungkin, ketika harus memutuskan data mana yang aman untuk dipublikasikan dan mana yang harus tetap ditutupi.
Dan kami juga sudah melewati momen-momen kebahagiaan bersama: ketika mereka pertama kali menyadari bahwa "hal-hal biasa menjadi luar biasa dalam penelitian ini", ketika mereka melihat foto dan kutipan mereka dipamerkan di TIM, ketika laporan yang mereka tulis mulai berbentuk dan mereka merasa bangga dengan hasil kerja mereka sendiri.
Hubungan yang dibangun melalui proses seperti ini tidak bisa begitu saja "ditutup" ketika kontrak proyek berakhir. Ini bukan seperti hubungan transaksional antara konsultan dan klien. Ini lebih seperti hubungan guru-murid yang saling belajar—atau lebih tepatnya, seperti yang Freire gambarkan: "guru-murid bersama murid-guru"—yang tidak punya titik akhir yang jelas.
Bahkan jika kami tidak lagi punya dana untuk lokakarya berikutnya, bahkan jika kami tidak lagi bertemu secara rutin, hubungan itu tetap ada. Mereka tahu mereka bisa menghubungi kami ketika butuh umpan balik untuk laporan, ketika butuh koneksi ke jaringan CSO lain, ketika butuh seseorang yang bisa memahami konteks perjuangan mereka. Dan kami tahu kami bisa belajar dari mereka tentang bagaimana perlawanan terus berlanjut, strategi apa yang berhasil, apa yang terjadi dengan proyek panas bumi dan tambang nikel di lokasi mereka.
Ini bukan "komitmen jangka panjang" yang direncanakan dari awal atau yang tertulis di proposal. Ini adalah konsekuensi organik dari cara kami memilih untuk menjalankan penelitian ini: dengan dialog, dengan resiprositas, dengan menghormati mereka sebagai sejawat. Ketika kita benar-benar menjalankan prinsip itu, hubungan yang tercipta tidak bisa lagi dikembalikan ke semula. Anda tidak bisa tiba-tiba kembali menjadi "peneliti objektif" yang berjarak. Anda sudah terlibat.
Jadi, ketika orang bertanya: "Proyeknya sudah selesai, kan?", saya tidak tahu bagaimana menjawabnya.
Secara administratif, ya. Kami sudah menyerahkan laporan akhir ke donor. Kami sudah melakukan lokakarya terakhir. Kami sudah mempertanggungjawabkan anggaran. Proyek, dalam pengertian konvensional, sudah selesai.
Tapi secara relasional? Bagaimana Anda "menyelesaikan" sebuah hubungan yang masih hidup? Bagaimana Anda "menutup" sebuah proses yang masih bergerak dengan momentumnya sendiri?
Saya tidak rela membuat konklusi karena membuat konklusi berarti memberi kesan bahwa ada sesuatu yang berakhir. Padahal yang saya lihat adalah: mereka masih akan terus mendokumentasikan, masih akan terus menulis, masih akan terus menggunakan keterampilan penelitian yang mereka pelajari untuk memperkuat perjuangan mereka. Perlawanan terhadap proyek panas bumi dan tambang nikel tidak berhenti hanya karena lokakarya kami selesai. Represi yang mereka hadapi tidak berhenti. Kebutuhan mereka untuk memproduksi pengetahuan tentang situasi mereka sendiri tidak berhenti.
Dan kami? Kami masih peduli. Kami masih ingin tahu apa yang terjadi dengan mereka. Kami masih merasa ada tanggung jawab—bukan dalam arti "hutang budi" yang hierarkis, tapi dalam arti keterikatan yang muncul dari proses yang kami jalani bersama.
Mungkin inilah yang dimaksud Freire ketika dia berbicara tentang "pedagogi kaum tertindas" sebagai sesuatu yang harus dibangun bersama, bukan untuk mereka. Ketika Anda benar-benar membangun sesuatu bersama, Anda tidak bisa begitu saja meninggalkannya ketika fase konstruksi selesai. Karena yang terbangun bukan hanya produk, tapi juga relasi. Dan relasi itu terus hidup, terus berubah, terus membutuhkan pemeliharaan—bahkan tanpa funding, bahkan tanpa timeline proyek.
Jadi, mungkin perasaan "tidak rela menutup" ini bukan masalah yang perlu diselesaikan. Ini adalah tanda bahwa penelitian partisipatoris sejati memang tidak seharusnya punya penutup yang rapi. Ini adalah tanda bahwa kami sudah berhasil menciptakan sesuatu yang lebih besar dari sekadar proyek: sebuah proses yang punya kehidupannya sendiri dan hubungan yang tidak bisa lagi diputus dengan mudah.
Dan saya pikir, itu seharusnya dirayakan, bukan diratapi.
Saya tahu bahwa pengalaman menjalankan FPAR ini tidak tanpa tantangan dan pertanyaan yang belum terjawab. Saya ingin mendengar dari Anda—terutama mereka yang juga menjalankan penelitian partisipatoris:
- Bagaimana Anda menghadapi ketegangan antara pertanyaan penelitian donor dan prioritas komunitas?
- Bagaimana Anda memastikan resiprositas tanpa jatuh ke dalam ekstraksi?
- Apa yang Anda lakukan ketika "proyek selesai" tapi relasi masih berlanjut?
Mari kita berdialog!

Comments
No comments yet. Be the first to respond.
Enter your email and we will send a sign-in link so you can comment.