Skip to main content
← Dispatch ← Dispatch
Seri Refleksi JET Malut 02 - 
Mematahkan Monopoli Pengetahuan: Catatan dari Pelatihan Penelitian Kualitatif bersama Pemerintah Daerah

Seri Refleksi JET Malut 02 - Mematahkan Monopoli Pengetahuan: Catatan dari Pelatihan Penelitian Kualitatif bersama Pemerintah Daerah

Ditulis oleh: Tim ‘Transisi Energi Berbasis Masyarakat untuk Ketahanan Sosial dan Ekonomi’* sebagai bagian dari seri refleksi rutin yang dilakukan tim proyek.

Orlando Fals Borda, salah satu perintis Penelitian Aksi Partisipatoris, pernah mengatakan dalam bukunya “Action and Knowledge: Breaking the Monopoly with Participatory Action Research (PAR)” (1991) bahwa atensi PAR tidak sebatas mengumpulkan data dari kelompok/komunitas tertentu, tetapi membangun kapasitas untuk menghasilkan pengetahuan dan memanfaatkannya untuk pembangunan.

Dalam pandangannya, penelitian sosial konvensional seringkali menempatkan kelompok/komunitas tertentu hanya sebagai objek studi ketika akademisi dan lembaga asing “memonopoli pengetahuan” yang dianggap valid.

Berkaca pada refleksi tersebut, selama beberapa minggu terakhir dari September hingga Oktober 2025, Dala Institute memfasilitasi pelatihan penelitian kualitatif untuk 40 rekan-rekan pemerintah daerah lintas kedinasan di Kabupaten Halmahera Tengah dan Provinsi Maluku Utara. Kegiatan pelatihan ini merupakan bagian dari upaya membangun kapasitas daerah dalam mengumpulkan pandangan, gagasan, dan harapan masyarakat secara mendalam guna memahami dinamika sosial, ekonomi dan lingkungan di wilayah tambang nikel untuk pada akhirnya dapat merumuskan kebijakan yang lebih tepat sasaran.

Pembukaan Progam Pelatihan Kualitatif Bersama Pemerintah Kab. Halmahera Tengah dan Provinsi Maluku Utara

Melalui pendekatan PAR, pemerintah daerah berperan sebagai co-researcher / rekan peneliti yang berpartisipasi aktif dalam proses pengambilan dan analisa data lapangan, sehingga menjadikan mereka bukan sekedar penerima hasil penelitian, tetapi juga sebagai produsen pengetahuan.

Kegiatan pelatihan ini dilakukan menggunakan beberapa sarana pembelajaran. Pembelajaran dilakukan melalui enam modul pelatihan tentang penelitian kualitatif melalui video di platfrom YouTube, kuis dan latihan singkat, serta pertemuan daring untuk check-in dan mendiskusikan pertanyaan teknis dan kemajuan para delegasi peneliti dalam menyelesaikan materi.

Silabus Program Pelatihan Penelitian Kualitatif

Sejak awal, kami menyadari bahwa pelatihan semacam ini bukan hanya tentang memperkenalkan metode penelitian, tetapi juga tentang mengubah cara pandang terhadap proses belajar dan meneliti itu sendiri. Dalam pendekatan PAR, penelitian bukan sekadar proses teknis untuk mengumpulkan data, melainkan juga ruang reflektif bagi para delegasi peneliti untuk mendengarkan, memahami, dan menafsirkan pengalaman masyarakat dengan cara yang lebih empatik dan kontekstual.

Modul Pelatihan Berbasis Video-Learning

Selama hampir satu bulan berinteraksi intensif, banyak hal yang kami pelajari dari proses pelatihan ini. Salah satu poin penting adalah proses pembelajaran yang tidak bisa diseragamkan. Antusiasme dan partisipasi sangat bervariasi di mana setiap delegasi peneliti memilki ritme dan tantangan masing-masing dalam menyelesaikan modul. Hal ini dipengaruhi oleh latar belakang, jabatan dan kapasitas serta kondisi masing-masing delegasi peneliti. Mereka yang aktif cenderung adalah individu yang memiliki pengalaman yang relevan dengan daerah dan/atau yang memiliki posisi yang lebih tinggi di instansi mereka. Beberapa delegasi juga harus berganti karena penugasan baru atau alasan kesehatan. Hal ini tentunya tidak bisa dihindari, justru mengajarkan kami pentingnya memahami dinamika di dalam pemerintahan dan mengakomodir perbedaan tersebut.

Selain itu, meski terdengar klasik, kendala teknis masih menjadi tantangan tersendiri di daerah dengan pertumbuhan ekonomi tertinggi di Indonesia. Gangguan seperti jaringan internet yang masih tidak stabil, kendala pada perangkat elektronik dan kondisi listrik yang tidak konsisten di beberapa wilayah ini kerap terjadi dan berdampak pada keterlambatan penyelesaian modul maupun tingkat kehadiran dalam pertemuan daring. Pada salah satu pertemuan daring yang dilakukan, hampir seluruh rekan-rekan dari Halteng terlambat hadir karena mati lampu. Untuk tetap hadir, delegasi mencari tempat lain yang masih berlistrik. Penyesuaikan jadwal, penyediaan rekaman pertemuan, dan menjalin komunikasi personal adalah komponen penting agar proses belajar tetap berlanjut dengan nyaman.

Menyadari bahwa pemerintahan memiliki struktur yang berjenjang, kami melihat bahwa dukungan pimpinan berperan besar dalam keberhasilan program pembelajaran. Dalam beberapa kasus, kepala dinas dan kepala bidang secara aktif mendorong stafnya untuk menyelesaikan modul dan hadir dalam sesi daring. Dorongan seperti ini terbukti meningkatkan rasa tanggung jawab dan keterlibatan delegasi dalam proses belajar. Pelajaran pentingnya adalah kepemimpinan yang mendorong pembelajaran kolaboratif bisa menjadi faktor pembeda dalam keberlanjutan inisiatif seperti PAR. Proses ini juga menegaskan pentingnya menciptakan ruang belajar yang inklusif dan suportif.

Pelatihan ini juga menjadi pengingat bahwa pendekatan kualitatif berakar pada empati dan refleksi. Kami memahami lebih dalam pacing dan keseimbangan, bagaimana menjaga ritme agar tidak terburu-buru, memberi ruang bagi refleksi, dan mengapresiasi setiap kemajuan kecil. Jadwal dan rencana yang disusun bukan seperti pilar-pilar bangunan yang kaku, namun seperti pagar yang dibuka dan ditutup menurut kebutuhannya. Dalam pendekatan PAR, keberhasilan tidak diukur dari kecepatan, tetapi dari kedalaman proses belajar dan kolaborasi yang tercipta.

Awal November, minggu depan, menjadi penyimpul bagi rangkaian pelatihan untuk persiapan pengumpulan data. Pertemuan tatap muka yang akan diselenggarakan di Weda diharapkan menjadi ruang belajar yang lebih interaktif, partisipatif, dan kolaboratif bagi seluruh delegasi peneliti. Melalui pertemuan ini, para delegasi akan mempersiapkan diri secara lebih matang untuk melihat, memahami, dan mengidentifikasi keterhubungan antara teori dengan kenyataan di lapangan. Hasil pembelajaran ini nantinya akan dianalisis bersama untuk memperkuat praktik transisi energi yang adil dan inklusif pada daerah penghasil mineral.

Di tengah berbagai dinamika dan tantangan dalam pelaksanaan penelitian ini, kami teringat pernyataan beberapa delegasi peneliti yang menyampaikan kekhawatiran akan terulangnya kejadian di Pulau Gebe, serta pentingnya upaya untuk lebih memahami dan mempersiapkan diri secara mendalam. Refleksi tersebut menghadirkan optimisme dan sekaligus mengingatkan kami pada pesan Fals-Borda bahwa PAR hakikatnya adalah mematahkan monopoli pengetahuan yang membuat masyarakat tetap dalam ketidaktahuan dan ketergantungan.

*) Tulisan ini merupakan tanggung jawab tim JET Malut dan tidak serta-merta mencerminkan pandangan Dala Institute secara keseluruhan.

Originally published on LinkedIn

This dispatch is related to Empowering Communities: A People-Centered Energy Transition for Socio-Economic Resilience.

Comments

No comments yet. Be the first to respond.

Enter your email and we will send a sign-in link so you can comment.